Share it

Rabu, 06 November 2019

KEHIDUPAN


Dunia ini penuh warna
Sangat luas sampai-sampai mata tak bisa menjangkau
Pandangan mata seolah terputus di ujung langit

Kita bisa merasa sebanyak yang kita mau di hamparan bumi yang luas ini
Kita bisa berencana,
Melakukan yang terbaik yang kita bisa,
Bertekad dan optimis terhadap keinginan ataupun cita-cita

Dunia ini indah
Sampai-sampai membuat kita lupa dan lalai
Iyah, kita seringkali lupa
Terlena dengan keindahan dan kenyamanan
Seakan hidup ini akan terus berotasi,
Seakan embun pagi akan setia menyambut,
Seakan sinar mentari akan setia menghangatkan,
Seakan bulan telah berjanji menghias sepanjang malam,
Seakan bintang bertekad tetap gemerlap di gelap malam,
Seakan ruh akan tetap Bersama jiwa

Iyah, kita seringkali lupa
Bahwa hidup bukanlah garis panjang yang tiada batas
Kita seringkali lupa bahwa hidup di atas dunia tak ubahnya sebuah titik kecil
Mempunyai batas dan mempunyai akhir

Kita mungkin saja paham, bahwa ada batas untuk bisa berdiri di hamparan bumi ini
Meski begitu, kita sering kali peduli dan tetap sibuk dengan maksiat
Apakabar hati dan pikiran kita? Benarkah ia baik-baik saja?

Merasa takjub dengan berbagai pesona dunia, kenapa tidak?
Tak mengapa
Justru dari sanalah seharusnya akal kita berpikir, ada dzat yang maha segalanya
Yang telah menjadikan jagat raya ini begitu indah, rumit dan kompleks
Dzat yang menciptakan mahluk, alam semesta dan kehidupan

Maka sudah seharusnya kita berpikir, dari mana kita diciptakan? Untuk apa kita dan alam semesta ini ada? Akan kemana kita setelah kehidupan dunia?

Sudahkah kita menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu?
Sudahkah kita menemukan jalan dan tujuan atas berdirinya kita di hamparan bumi yang luas ini?

Tidakkah terpikirkan oleh kita bahwa kelak akan ada kehidupan setelah kehidupan dunia?


Cikande, 31 Oktober 2019


HUJAN

Hujan...
Ia selalu istimewa
Ia mampu menghidupkan yang mati
Dan membasahi yang kering

Hujan...
Ia mampu menciptakan kombinasi rasa yang aneh
tetapi penuh kesejukan
Ia selalu dirindui

Bagaimana jika hati yang mati?
Akankah hujan mampu menghidupkannya?
Bagaimana jika jiwa yang kering?
Akankah hujan mampu membasahi dan menyejukanya?

Akh, urusan hati memang selalu rumit
Bukan oleh hujan ia akan merasai sejuk dan hidup,
Tetapi karena sang pencipta hujanlah hati yang mati akan kembali hidup
Karena sang pencipta hujanlah jiwa yang kering akan kembali  sejuk

Maka, jalan untuk hati kembali hidup dan jiwa kembali sejuk
Adalah jalan kembali dekat kepada-Nya


Cikande, 06 Nopember 2019
Pukul 14.52 WIB

Jumat, 27 September 2019

NGGAK JELAS

Hi My Blog, sudah lama kita tak bersua. Maaf banget yah kamu cuma diisi sama tulisan-tulisan yang nggak jelas. termasuk tulisan ini yang sedang diketik, sama sekali nggak jelas.

Lagipula kau tahu sendiri, sejak kapan aku mengisi blog ini dengan tulisan keren? Nggak ada bagus-bagusnya sema sekali, iya kan?

Kau tahu aku bukan? Aku terkadang nggak jelas seperti ini, dan aku tahu kau selalu mau menerima ketidak jelasan itu.

Aku ingin bercerita banyak, banyak sekali....
Kau tahu? Aku tiba-tiba teringat sesuatu, dan sesuatu itu tidak bisa aku tuliskan di sini.

Please, jangan tanya tentang apa sesuatu itu. Yang pasti sesuatu itu membuatku kembali kepada mimpi-mimpiku.

Jari-jemariku tiba-tiba terasa dingin, seolah dinginnya dua AC di ruang kerja menyerap seluruhnya.  Hatiku? Jantungku? Entah apa yang terjadi di sana, sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi.

Akh...apa ini? Bahkan ketika aku mengetik tulisan ini, jeri-jemariku kembali terasa dingin. Wajah berjerawatku pun ikut terasa kaku.

Suasana ruangan ini, suara cempreng Mbak May, suara heboh dua orang China itu, atau suara-suara lainnya yang biasanya aku merasa terganggu, saat ini aku tidak begitu peduli.

Aku tengah fokus dengan sesuatu, jari-jemari yang masih saja terasa dingin, hatiku, jantungku, entah apalagi yang terjadi di sana.

Aku benar-benar pernah memimpikan "sesuatu" itu, bagaimana bisa aku lupa dengan hal indah itu? Meski aku berulang kali mengabaikan,berulang kali berpura-pura tidak mengerti, berulang kali menutup semua hal tentang itu, justru "sesuatu" itu kembali datang dalam ingatan dengan fakta yang membuatku sangat terkejut.

Terkejut? Lebih dari itu, aku bahkan tak bisa berkata apapun.
Hei, ini benar-benar nyata, aku tidak sedang bermimpi.

Aku teringat dengan mimpi-mimpi itu.
Aku pernah memimpikannya, bagaimana bisa aku melupakan itu?

Bukankah itu sangat indah?

Dan yang lebih penting, bukankah aku masih memimpikan hal itu?

Tetapi, tetap saja ini adalah hal tidak jelas. Nanti, entah kapan, mungkin akan ada penjelasan.

****

Akh, sangat menyebalkan. Sejujurnya aku masih ingin bercerita. Tapi badmood tiba-tiba melanda, baru saja ada kabar MATERIAL REJECT. Hufftt...serius ini menyebalkan.



Senin, 10 Juni 2019

My Blog

#CoretanLama


Sore ini aku mebuka salah satu blog seorang penulis muda asal bogor jawa barat. Aku mengenalnya melalui media sosial. Memang sudah dari kemarin aku ingin membuka blognya tetapi baru sore ini  sempet untuk membuka blognya. Itupun aku sempet-sempetin dijam kerja. Hihi.

Sebuah blog yang berisi pengalaman pribadi yang dengan senang hati ia share. Ada ratusan postingan pada blog tersebut dengan bahasa yang bagus. Aku terpaut pada bionya. Tertulis nama lengkap beserta usianya. Dua puluh tiga tahun, usianya sama denganku saat ini. Ia mulai memposting tulisannya pada tahun 2011. Tahun 2011, pada tahun tersebut juga aku memulai membuat blog dan memposting beberapa tulisan. Namun karena aku merasa tulisan tersebut tak layak untuk dibaca, akupun menghapusnya. Aku memang tak punya keahlian khusus dalam hal tulis menulis. Tak punya pengetahuan luas mengenai bahasa. Tak bisa menciptakan kalimat-kalimat yang mampu melelehkan hati.

Jarak antara 2011 sampai 2017 tidaklah sebentar. Aku menyesali banyak waktu yang terbuang. Banyak waktu yang terpakai untuk hal yang sia-sia dan tak ada manfaat. Jika bisa diulang aku ingin memperbaikinya.

Sabtu, 08 Juni 2019

BURUNG BULBUL

#RamadhanBercerita10


"Bunuhlah burung Bulbul itu di tempat yang tak ada satu pun yang dapat melihat." Kalimat itu keluar dari seseorang yang selama ini mengajarkan kebaikan. Membunuh? Apakah benar itu yang diperintahkan?

Ke empat muridnya nyaris terdiam. Benarkah mereka harus membunuh burung Bulbul yang ada di tangan mereka masing-masing? Apakah dengan membunuh burung Bulbul itu bisa membuat mereka lulus ujian dari gurunya itu?

Ha, Ra, Ka dan Yes,  ke empat anak itu berjalan terpencar mengikuti langkah kakinya masing-masing. Menyusuri belantara, mendaki bukit, melewati rimba, mencari-cari tempat yang pas untuk melewati ujian dari gurunya.

Membunuh. Iyah, membunuh adalah ujian yang diberikan oleh gurunya.

Selasa, 14 Mei 2019

Ramadan Bulan Perjuangan

#RamadhanBercerita9

“Ante Cipi…ante Cipi…bangun sholat dulu,”  Suara imut menggemaskan terdengar di telingaku.
Ketika aku membuka mata tampak senyum Khila yang mengembang.

Siang itu setelah perjalanan yang cukup melelahkan membuat mata mudah sekali merem. Haha…alasan bilang aja emang hobby tidur😄

Tapi serius siang itu benar-benar sangat panas. Naik angkot rasanya gak karuan. Keringat meleleh. Tenggorokan kering. Terbayang di kepala Es Kuwut yang sangat segar. Padahal aku bukanlah penikmat sejati minuman sejenis Es. Ketika yang lain bahkan tidak bisa lepas dari minuman dingin atau sejenis Es lainnya, aku justru bertolak belakang. Minum Es saat itu, maka flue melanda seketika itu juga.

Namun, siang itu entah kenapa kepala dipenuhi oleh minuman segar itu. Es Cincau yang tak kalah segarnya dari Es Kuwut ikut terbayang di kepala. Nikmatnya.

Astagfirullah…eling…eling, kan lagi puasa ðŸ˜…

Menjaga dan Terjaga


#RamadhanBercerita8

“Ketika ekspresi rindu adalah do`a, tak ada cinta yang tak mulia” Kata Kang Azhar dalam kisah Rijal Rafsanjani dan Annisa Larasati.

“Amor Vincit Omnia-Cinta menaklukan segalanya” sebuah motto hidup seorang laki-laki bernama Salman dalam kisah Salman dan Maharani. Perasaan jatuh cinta mengubah Salman, memberi energy untuk secara sukarela menyulap dirinya menjadi orang yang sama sekali berbeda. Adalah Maharani, orang yang paling bertanggung jawab atas episode hidup yang baru itu.

Cinta, begitukah?

Derai Gerimis

#RamadhanBercerita7


Di bawah derai gerimis yang Engkau turunkan sore ini
Dari langit yang terbentang tanpa pondasi,
Aku berlindung kepada-Mu atas gerimis di hati yang kini menyambangi


Di bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat kemuliaan
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala kelalaian,
atas segala dosa, atas segala maksiat, atas segala kedzaliman
dan segala bentuk kesalahan dalam hidup

Di bawah derai gerimis yang sejuk menyentuh wajah,
Aku memohon pertolongan-Mu untuk tetap meraih tanganku,
Menunjuki jalanku dan meridhoi langkahku,

Hati yang gerimis ini menyadari, tak ada tempat lain,
tak ada peraduan lain, kecuali hanya kepada-Mu

Satu-satunya teman hidup
Satu-satunya tempat bercerita dalam segala kondisi

Di bawah derai gerimis
Jiwa yang kini turut gerimis
Memohon ampun kepada-Mu
Atas segala keluh

Radio dan Meong Orange

#RamadhanBercerita6



"Nanti kesini lagi ya. Jangan lama-lama kesini nya yah," Ucap Nenek.

Hari ini ia banyak bercerita. Ia juga bercerita perihal radio satu-satunya yang ia jual. Radio itulah yang menemani kesendiriannya di rumah yang jauh dari kata layak. Siapapun yang melihat kondisinya, air matanya pasti merembes. Bahkan dek Nada yang masih anak-anak pun terlihat menahan air mata.

Ia sendiri di masa tuanya. Sendiri menahan sakit di dalam rumahnya. Rumah itu menimbulkan banyak kecemasan pada kami. Tembok rumahnya terbuat dari geribik. Lantai tanah bisa becek kapan saja. Pondasi kayu mulai rapuh menahan beban. Atap rumah bolong dimana-mana. Sebagian tempat tidurnya basah terkena air hujan. Kamar mandi tak mempunyai sekat bahkan tak menggambarkan sebuah kamar mandi pada umumnya. Tak ada kloset. Hanya berlantai tanah dan potongan batu-bata.

Perasaan seperti tersayat menyergap hati kami. Berdosakah kami tidak menyadari ada saudara kami yang hidup sendiri dalam pesakitan? Berdosakah kami melihat semua itu di depan mata namun tidak ada tindakan?

Nenek kembali membicarakan radionya yang sudah ia jual. Tentu nenek merasa radio itu sangat berharga. Radio yang menemaninya sepanjang hari, membuat kesendiriannya tak terasa sepi.

Meski radio itu kini tiada, Nenek mengatakan masih punya teman yang setia menemani, yaitu si meong berwarna orange. Iyah, meong itu lah yang pertama menyembul dari lubang jendela  menyambut kami ketika kami mengetuk pintu rumahnya.

Cikande, 11 Mei 2019

Aku, Kau dan Kupu-Kupu Kertas

#RamadhanBercerita5

Ternyata konsisten itu berat, ngga ada satupun tulisan di Ramadhan hari ke-5😪
Well, karena tagar #RamadhanBercerita harus tetap berlanjut, sepertinya tak mengapa jika #RamadhanBercerita5 berisi tulisan testimoni. Testimoni? Iyap, testimoni sebuah Novel keren karya kak Irwansyah Pekanbaru. Kebetulan testimoni itu ditulis pada Ramadhan hari ke-5 😄

***

Aku, Kau dan Kupu-Kupu Kertas





Sebuah novel perjalanan hidup tersaji dalam bahasa yang renyah dan natural.

Novel ini adalah novel paket komplit😄
Wahhh…benarkah? Tentu saja benar. Kita akan disambut oleh kisah-kisah masa kecil dalam romantika kehidupan yang nyata. Kemudian, kita diajak menyusuri kehidupan sosial, ekonomi, serta budaya dengan deskripsi yang apik. Kisah cinta pun turut melengkapi cerita dalam novel ini. Cinta yang berbeda, bukan cinta dalam kisah roman picisan.

Karakter kuat tokoh utama menjadikan kisah dalam novel ini terasa hidup dan mengalir. Kisahnya mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca.

Perjalanan hidup, perjalanan rasa, diramu dengan kisah bernafaskan Islam.

Cinta tak melulu berbicara tentang perasaan yang berbunga-bunga. Bukan pula tentang dua hati yang ingin disatukan. Lebih dari itu, cinta adalah hidayah yang mempertemukan hati yang lama terpisah dengan Tuhan-Nya. Cinta yang membawa seseorang pada jalan menuju iman. Merekatkan kerinduan seorang hamba di penghujung hayatnya.

Aku, Kau dan Kupu-Kupu Kertas, apa dan siapa Kupu-Kupu Kertas?
Penasaran kan?😊

Titah Takdir

#RamadhanBercerita4


"Vi, udah buka?" sebuah pesan whatsapp dari seseorang yang aku kenal.
"Udah," Aku membalasnya singkat. Ku tengok jam dinding hampir pukul19.00. Tentu saja aku sudah berbuka puasa.

"Ditemenin apa bukanya?"
"Gorengan," Jawabku dengan jujur. Iyah, waktu itu memang aku berbuka dengan minum teh hangat dan satu gorengan.

Dulu ketika masih di Jawa, moment berbuka puasa adalah moment yang sangat seru. Berbagaimacam makanan bisa masuk ke dalam perut. Sekarang, menyuapkan nasi untuk diri sendiri terasa sangat berat. Entah kenapa selera makan belakangan ini berkurang. Berat badanpun ikut berkurang, sampai-sampai aku merasa syok ketika menimbang berat badan di tempat kerja.

"Kasian, kayak si San*** dong, makan ditemenin sama tulang...tulang rusuk,"


Aku mengerutkan dahi. Jadi ngejapri aku nanyain perihal buka puasa tujuannya buat ngebuly doang?

Rabu, 08 Mei 2019

Si Bungsu



#RamadhanBercerita3

Malam tadi dikirimin foto-foto lama si bungsu waktu masih kecil. Dari foto-foto itu si bungsu masih terlihat imut menggemaskan 😄

Hingga waktu terus berlalu, si bungsu terus bertumbuh. Badan mulai meninggi mengejar tinggi badanku yang sudah mentok.

Si bungsu, dia punya kebiasaan usil yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Kemarin ketika aku menelfon ibu, ia meminta berbicara, jadilah si ponsel diserahkan kepadanya.
Aku membatin, kira-kira si bungsu mau cerita apa yah?


Selasa, 07 Mei 2019

TAMU TAK DIUNDANG

#RamadhanBercerita2

Memasuki hari ke-2 bulan Ramadhan. Apa yang akan aku tulis untuk menyanggupi tagar #RamadhanBercerita yang aku buat itu?

Rasanya seperti hendak berbicara di depan banyak orang. Berat dan susah memulai. Baru saja kepala dipenuhi berbagai hal untuk ditulis, ketika jari mulai mengetik buntu pun menyambangi. Yah, ini tepat seperti suasana berat yang dirasa ketika harus berbicara di depan banyak orang. Di depan banyak orang? Dihadapan beberapa orang saja sudah sangat berat untuk memulai😂

Kapan terakhir kali berbicara di depan forum? Awal bulan Mei ini di acara pelatihan public speaking. Yah, hari itu menjadi moment latihan buatku juga teman-teman yang lain. Hari itu aku memberanikan diri maju ke depan forum, mempraktikan public speaking, berbicara sesukaku.

Aku menggunakan kesempatan maju di depan forum untuk membahas buku perdana yang aku tulis. Promosi? Iyah bisa jadi. Hehehe.

OBOR : Menguatkan Cengkraman Cina Akan Indonesia

#RamadhanBercerita1




Oleh : Silpianah (Member Akademi Menulis Kreatif)

One Belt One Road, istilah yang kini melejit menjadi bahan perbincangan berbagai kalangan. One Belt One Road (OBOR) merupakan proyek kerja sama Indonesia Cina yang dikenal dengan sebutan empat koridor. Indonesia mengalokasikan empat koridor untuk proyek tersebut yaitu di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Pulau Bali. Program OBOR merupakan suatu konsep pemetaan jalan yang menghubungkan Asia hingga Afrika dimana terdapat dua peta utama yaitu, 21 st Century Maritime Silk Road (jalur sutra maritime abad 21) dan Silk Road Economic Belt (jalur sutra sabuk ekonomi).

Dilansir oleh Harianjogja.com (28/04/2019), Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan China, One Belt One Road (OBOR) atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor, siap dilaksanakan. Sebanyak 23 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara pebisnis Indonesia dan Tiongkok ditandatangani setelah pembukaan KTT Belt and Forum II di Beijing, Tiongkok, Jumat (26/4/2019).

Rabu, 24 April 2019

Hanya Sebuah Gambar




Dua hari ini aku merasa sangat riweh dengan pekerjaan. Pasalnya setelah perusahaan tempatku bekerja mengikuti pameran di Jakarta awal april lalu, berhasil menarik customer baru berdatangan. Sebetulnya ini kabar baik, itu artinya perusahaan tempatku bekerja masih produktif. Namun hal itu juga menjadi beban baru buatku. Aku yang bertanggung jawab di bagian Development tentu harus memproses segera segala bentuk sample yang diminta para customer baru. Disamping masih memegang beberapa customer dari  brand ternama di bidang sepatu, aku juga  memegang beberapa customer luar seperti NB Vietnam, Cina dan Taiwan.

Serius ini sangat menguras tenaga dan pikiran. Berhasil membuatku istigfar sepanjang hari. Istigfar, berusaha menenangkan diri agar jangan sampai ada keluh kesah dalam hati. Aku berusaha cepat menyelesaikan pekerjaan yang ada meskipun sebetulnya pekerjaan itu berdatangan silih berganti sekalipun siang berganti dengan gelap.

Gerimis di Langit Balaraja

Balaraja diselimuti gerimis sore ini. Angin terasa berkibas-kibas terdengar dari dalam angkot putih yang aku tumpangi. Perjalanan menuju Balaraja sore ini menjumpai macet di beberapa titik, di pertigaan Asem, di pasar Gembong juga yang lebih parah macet di Pertigaan arah kampung Oleg.

Sebelum melewati jembatan layang, aku turun bersama seseorang. Ia mencengkeram tanganku dengan kuat. Menggandengku seolah aku anak kecil  yang hendak menyebrang di jalan raya. Ia berjalan di depan ku dengan tetap menggandeng tanganku. Sejujurnya kondisi seperti itu sedikit membuatku agak sulit berjalan karena banyaknya kendaraan lalu lalang. Mungkin moment bergandengan tangan  akan lebih nyaman ketika kita berjalan beriringan.

IPIN & IPI

Pagi ini langit cikande sedikit mendung. Langit berwarna abu-abu. Angin berhembus menyisakan sejuk di kulit. Sejuknya angin pagi ini mungkin akan terasa dingin jika saja aku masih tertidur di atas kasur. Iyah, itu pasti. Aku sudah berulang kali menyesal mendapati diri terbangun sementara matahari sudah menyingsing ke penjuru bumi. Akh…itu penyesalan terbesar.

Konsisten memang terasa berat. Namun aku tak mau kalah dengan bisikan setan yang menyuruhku untuk tetap berselimut.  Mandi pukul 03.00 atau pukul 03.30 menjadi senjataku untuk mengusir segala kemalasan. Rasanya bahagia sekali bisa beraktifitas pada waktu-waktu tersebut. Yeah, aku menang. Menang melawan ego dalam diri. Selepas subuh membaca buku pun tak kalah menyenangkan. Bahagia kita sendiri yang menghadirkan. 😃

Pukul 06.30, seperti biasanya aku sudah berdiri di depan gang di pinggir jalan menunggui angkot merah. Angkot merah sudah terlihat di ujung jalan. Sambil menunggu aku membaca sebuah novel yang sudah lama tak tersentuh. Ayat-Ayat Cinta 2, novel setebal sekitar enam ratus halaman itu bercerita dengan sangat keren. Aku sangat menyesal baru membacanya sekarang.

Minggu, 20 Januari 2019

Mimpi Itu Nyata



Benarlah bahwa mimpi adalah kisah yang terekam dalam lelap tanpa kesadaran dari si pemimpi. Terkadang kisah itu membekas dan disimpan dengan indah oleh si pemimpi. Biarlah hanya diri sendiri yang tahu betapa membahagiakannya kisah itu.

Sekitar dua minggu yang lalu, hatiku dipenuhi perasaan bahagia dan haru. Di suatu tempat entah di mana dan apa nama tempat itu, aku bertemu dengannya. Bertemu dengan sosok yang dirindu. Kehangatan suasana dalam pertemuan indah yang terjadi  begitu saja menjalar kedalam qalbu.

Namun semuanya hanya kisah yang hanya bisa disimpan sendiri. Tersimpan dengan apik di dalam ruang hatiku.

Aku ingin bertemu dengan nya. Rasanya rindu semakin penuh sesak di dada.

"Mungkinkah kita akan dipertemukan?" sesekali pertanyaan semacam itu memenuhi pikiranku.

Kisah dan skenario yang Allah goreskan teramat indah hingga mimpi adanya pertemuan itu menjadi nyata. Aku benar-benar bisa berada di sampingnya. Mendengarkan suaranya. Mengekpresikan rindu dengan memeluknya. Bu Is, mimpi itu nyata.

Kuasa Allah mengalahakan logika manusia. Sempat membayangkan jika seandainya aku menemuinya di kediamannya di Jember, perjalanan panjang nan melelahkan tergambar sangat jelas. Lelah bisa saja dilawan. Namun perjalanan Serang-Jember tentu memakan waktu lama. Tak mungkin bukan aku melakukan safar tanpa mahrom? sedang jarak teramat jauh bisa sampai dua hari dua malam dengan bus.

Maka jika bukan karena kuasa-Nya, tak mungkin pertemuan dan mimpi menjadi nyata. Di kediaman Cikgu Novita Sari Gunawan di daerah Pamulang Tangerang Selatan, kami dipertemukan. Bertemu dengan Bu Is dan keluarga dari AMK. Sungguh sila ukhuwah yang sangat indah.

Alhamdulillah atas segala nikmat-Mu ya Rabb. Sungguh aku mencinta mereka karena-Mu. Semoga kelak kami dipertemukan kembali di Surga-Mu.

#MimpiItuNyata
#Pertemuan
#Rindu
#Silpianah
#AMK5

Jangan Jadi Penulis Kagetan


"Oalah tema kulwa apa ini?" Batinku ketika menyempatkan diri untuk menyimak kulwa yang berlangsung malam ini.

Ada saja ide dari Cikgu Apu Indragiry yang bikin penasaran ketika kulwa. Gak perlu nunggu lama, langsung deh saya bahas😃

Kaget#: Saat Teman/Orang Lain Sudah Punya Karya

Waduhh kok bener banget ini bahasan "kaget" yang pertama😄

Ekspresi kaget sering kali keluar ketika karya dari teman-teman mulai bermunculan. Kaget. Mereka bisa nerbitin karya, sementara aku belum bisa juga.😰<--more-->

Menjadi Penulis Mulia




Resume kulwa 09/01/2019

Tiga patokan utama agar menjadi penulis mulia. Sebuah tema kulwa yang luar biasa. Tersuguh dengan apik membawa suasana penuh kontemplasi atau perenungan.

Kulwa diawali dengan 3 pertanyaan dasar yang sering disebut sebagai `uqdah al-kubra` atau simpul besar.

Pertanyaan mendasar tersebut adalah
Darimanakah kita berasal?
Untuk apa kita ada di dunia?
Akan kemana kita setelah mati?