Share it

Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2019

Setangkup Kisah Ummahat



Setangkup Kisah Ummahat buku perdana karya Bunda Yuli, membacanya serasa sedang dalam suasana halqoh. Serius? Iyah, coba aja baca sendiri bukunya😄

Buku ini sangat bagus dibaca, terkhusus untuk muda-mudi seperti saya😄 Ketika membaca buku ini saya seperti terbawa dalam ruang kehidupan seorang ibu. Seorang ibu dengan segudang aktifitas mulai dari beberes rumah, mencuci pakaian, mencuci piring, menyetrika, menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak, memastikan sang anak belajar dengan baik dan lain-lainnya.

Kisah ummahat dalam buku ini, menggambarkan bagaimana seorang ibu menjalankan perannya namun tetap teguh dalam bingkai aturan Islam. Islam sempurna dan paripurna mengatur segala hal termasuk mengatur kehidupan seorang ibu. Tugas seorang ibu sangatlah berat dan Islam adalah solusi.

Sabtu, 19 Januari 2019

Quantum Writer



Quantum Writer. Begitulah tema kulwa yang disajikan oleh Cikgu Apu Indragiri di AMK.

“Wahh…ini tentu sesuatu yang menarik.” Batinku.

Dari awal baca tema kulwa yang dibocorin di fb, saya sudah penasaran. Ketika kulwa berlangsung ternyata menarik sekali. Membahas bahasan dengan bahasa intelektual.

Membaca atau menulis kata “Quantum” membuat saya flashback dengan mata pelajaran fisika di masa sekolah. Yang saya ingat pertama kali dari kata quantum adalah fisika, salah satu mata pelajaran pada jurusan IPA ditingkatan MA maupun SMA. Kata “quantum” lebih sering muncul pada bab Mekanika Quantum yang kalo tidak salah dipelajari di kelas XII. Mekanika Quantum lebih rinci membahas tentang teori atom seperti teori atom Bohr, teori atom mekanika quantum De Broglie, teori Schrodinger, teori Heizenberg, asas Hund, bilangan kuantum dan lain sebagainya.

Rabu, 16 Januari 2019

Pelayan Setia Sang Penulis




Oleh: Silpianah

Sebenarnya dia dekat, namun terkadang sering dilupakan. Padahal dialah yang paling setia memenuhi segala kebutuhan seorang penulis ataupun calon penulis.
Sejak pertama mendengar bahwa seorang penulis mepunyai pelayan yang paling setia yang sedia 24 jam penuh memenuhi kebutuhan si penulis, jujur saya dirundung rasa penasaran yang amat tinggi.
Kulwa oh kulwa, setiap kali Cikgu Apu Indragiri membagi ilmu kepenulisannya selalu saja fress dan tak terduga. Kali ini tentang pelayan setianya seorang penulis. Dan ini adalah resume sederhana dari kulwa tersebut.
Pelayan setia sang peniulis. Siap gerangan pelayan setia seorang penulis? Sama hal nya di sebuah restaurant, hotel ataupun tempat makan, pelayan selalu menyediakan apa yang kita minta. Ketika kita memesan appetizer (maknan pembuka), ia siap mengantar ketika kita memesan main course (makanan utama), ia pun siap mengantar. Dan ketika kita meminta dessert (makana penuup), ia pun tak menolak untuk mengantar. <-- more--="">

Selasa, 25 September 2018

Pantai





Semilir anginnya menyejukkan
Biru airnya menyegarkan
Irama ombaknya syahdu

Saya setuju dengan tulisan kak Jasli La Jate bahwa pantai adalah pemandangan alam yang begitu indah, jauh dari polusi apalagi kolusi nepotisme.

Barangkail saat ini saya pantas disebut sebagai orang yang suka ikut-ikutan ide orang lain. Iyah ikut-ikutan😁Minggu kemarin saya melihat tulisan kak Jasli mendeskripsikan moment jalan-jalannya di pantai. Menulis di atas pasir. Menikmati setiap desiran ombak yang menggulung-gulung.

Kali ini hal yang sama yang saya lakukan adalah menulis di atas pasir. Apakah yang saya tulis adalah nama seseorang? Bukan. Yang saya tulis adalah nama sebuah kelas menulis tanpa biaya sepanjang masa. Waawww…keren bukan. Iyah memang keren. Kelas itu bernama AMK (Akademi Menulis Kreatif).

Senin, 20 Agustus 2018

Empat Musim Penulis




"Tak harus dengan bunga untuk bisa dikatakan indah." Kalimat ini sepertinya pas untuk foto ini. Foto yang saya ambil dengan kamera Hp di perjalanan menuju pantai awal januari lalu.

Ini hanya sebuah foto ranting-ranting pohon yang tidak berdaun di jalan raya Cilegon. Tak ada yang special memang, tetapi menurutku ranting-ranting pohon itu mempunyai keindahan tersendiri untuk dipandang. Kondisi awan kala itu semakin mendukung keindahannya.

Daun-daunnya mungkin saja telah berguguran ketika angin meniupnya. Pohon itu seperti mengalami musim gugur sendirian, sebab pohon-pohon di kanan kirinya masih mempunyai daun-daun hijau yang rimbun.

Musim gugur yang dialami oleh pepohonan masih bisa menciptakan keindahan. Berbeda dengan musim gugur dalam menulis. Musim gugur dalam menulis yaitu ketika rasa malas mulai menghampiri. Malas belajar, malas latihan nulis juga malas membaca. Akhirnya gugurlah sudah harapan untuk bisa menulis.

Musim gugur dalam menulis biasanya disebabkan oleh musim dingin (winter). Kok begitu? Apa yang kita rasakan ketika dingin menerpa? Mager? Iyah tentu. Mager atau males gerak membuat kita diam tanpa aktivitas.

Musim gugur dalam menulis terjadi ketika tangan tak lagi digerakkan untuk berlatih. Kata-kata pun menjadi dingin. Beku kayak bola salju. Fase musim dingin adalah tanda akan adanya musim gugur. Gugurnya para calon penulis dari gelanggang juang.

Gugur? Akh...jangan sampai terjadi. Menulis, harus tetap bersemi layaknya bunga-bunga sakura di Jepang. Seperti cantiknya bunga tulip yang bermekaran di Belanda. Bersemi lagi memesona layaknya mapple di kanada.

Musim semi dalam menulis ibarat merekahnya optimisme, optimisme bahwa "Saya bisa menjadi Penulis."

Untuk menjaga optimisme musim semi kita butuh tindakan atau action. Action yang berisi semangat. Semangat belajar, berlatih juga semangat membaca. Ketika kita berada dalam kondisi semangat yang membara, itu artinya kita berada di musim panasnya penulis. Musim panas (summer) dalam menulis adalah penentu optimisme menjadi penulis di musim semi.

Finaly, semoga musim semi selalu kita rasakan. Begitupun musim panas, semoga tetap kita jumpai untuk membakar semangat juang menjadi penulis. Penulis ideologis.

#4MusimPenulis
#MengikatKulwa
#AkademiMenulisKreatif
#PenulisIdeologis

Merdeka



Merdeka, sementara jiwa masih saja terbelenggu dalam kelalaian

Merdeka, sementara kita masih membiarkan diri larut dalam keriuhan dunia hingga lupa kewajiban sebagai seorang hamba.

Merdeka, sementara gadget dan dunia maya tetap membuat kita lupa diri, lupa waktu bahkan lupa jalan pulang ke kampung halaman (akhirat)

Merdeka, sementara hati dan pikiran masih dikuasai oleh hawa nafsu, merasa nyaman dengan maksiat yang dibungkus rapi dengan kata cinta

Merdeka, sementara masih banyak tubuh-tubuh kurus di pelosok Negeri yang belum tersentuh oleh kelayakan hidup

Merdeka, sementara kekayaan Negeri diangkut asing dan aseng. Tambang minyak di Balikpapan Kalimantan Timur, freeport, tambang nikel di Kabupaten Halmahera Timur, tambang Nikel di Morowali Sulawesi Tengah, Tambang aspal di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara, juga tambang batubara di Samarinda Kalimantan Timur masih dikuasai oleh asing.

Inikah merdeka?

Credit photo by google

#Merdeka
#AkademiMenulisKreatif
#AMK5

Kamis, 26 Juli 2018

Kesalahan Fatal


Aplikasi facebook di layar smartphone kusentuh disela-sela mengerjakan dokumen pengiriman. Beberapa status bersliweran di timeline. Tanganku terhenti menggeser layar, mataku seksama memperhatikan sebuah tulisan seseorang yang kerap muncul di timeline FB ku. Tulisannya begini “Kesalahan fatal #2 bagi penulis pemula adalah ingin menulis berlembar-lembar tanpa latihan rutin menulis cepat (fast writing).”

Sudah tahu kan ini tulisan siapa? Cikgu Apu Indragiry, iyah betul sekali itu adalah tulisan beliau di facebooknya. Ini untuk pertama kalinya Aku mempunyai seorang Cikgu, karena di masa sekolah seseorang yang mengajarkan ilmunya Aku sebut sebagai guru. Kata Cikgu biasanya Aku dengar di acara tv upin dan ipin😁

Aku bermaksud ingin bercerita tentang kesalahan fatal yang aku rasakan. Mirip dengan kesalahan fatal #2 yang ditulis oleh Cikgu Apu. Sayangnya akupun melakukan kesalahan saat menulis ini. Kesalahannya yaitu niat menulis dari beberapa hari yang lalu dan baru dilanjut hari ini. Dua paragraf pertama ditulis tanggal 20 juli 2018, waaww lama banget… iyah memang begitu adanya. Tulisan ini diketik pada pc di tempat kerja pada jam kerja pula😁

Rabu, 18 Juli 2018

Pemilik Cita-Cita


" Bagi pemilik cita-cita, kesibukan, kelelahan, banyaknya amanah bukan alasan untuk lari dari cita-cita jadi penulis. Tapi bagi pecinta kekalahan ada sejuta alasan untuk lari dari cita-cita." (Apu Indragiry).

Sebuah kalimat motivasi  masuk di WA group #AkademiMenulisKreatif tepat ketika Aku sedang menyimak tulisan-tulisan yang belum sempat kubaca. Tulisan dari seorang guru yang juga seorang penulis buku yang setiap hari rela menggunakan waktunya untuk membagi ilmu tentang kepenulisan.

Tak hanya memotivasi, bagiku ada sebuah cambukan keras yang seakan menimpaku. Merasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Tak bisa dielak lagi.  Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah Aku menjadi bagian orang-orang yang memiliki cita-cita? Atau malah sebaliknya, pecinta kekalahan.